Masa Tumanurunga
Ketika Tumanurung Baineya diangkat menjadi ratu di butta Gowa, beliaulah yang berhasil mempersatukan wilayah Kerajaan Gowa yang tergabung dalam Kasuwiang Salapanga yang terdiri dari Kasuwiang Tombolo, Lakiung, Saumata, Parangarang, Data, Agang Je'ne, Bisei, Kalling Dan Sero.
Ketika negeri dalam keadaan aman, suatu ketika, Sang Ratu kemudian melakukan perjalanan keliling kebeberapa kerajaan tetangga. Ia kemudian berangkat dari istananya di bukit Tamalate menuju muara Sungai Jeneberang. Dari muara, Tumanurung kemudian berjalan menelusurinya hingga kehulu sungai. Dari Kampung Lanna, ia kemudian membelok ke arah anak sungai menuju sebuah persawahan di daerah Pammolongang.
Ketika sampai di daerah Pammolongang. Dalam keadaan hujan gerimis, penduduk setempat mendengar suara gemuruh disertai kilat. Bunyi gemuruh itu membuat warga panik dan ketakutan sambil melihat ke arah suara gemuruh yang terletak di pohon ganjeng (sirih) itu.
Dari suara gemuruh yang disertai kilat dipohon ganjeng itulah, tiba-tiba muncul sinar yang menerangi perkampungan disekitar Pammolongang. Ketika diperhatikan secara seksama, sinar itu kemudian berubah menjadi seorang putri yang cantik jelita dengan memakai mahkota, kalung, gelang dan cincin. Warga di Pammolongang saat itu menyebutnya putri ratu sebagai Tumanurung ri Pammolongang (Putri yang turun di Negeri Pammolongang) yang juga lebih dikenal dengan nama Lao Punranga.
Konon, kedatangan Tumanurung bainea dari Gowa ke negri Pammolongang ketika itu, semata-mata ingin menyelamatkan negri itu yang dilanda keretakan. Tumanurung Baineya kemudian mengutus putri cantik untuk menjadi pemimpin di negeri Borisallo. Tumanurung itu kemudian diturunkan di sebuah Pohon Ganjeng di Pammolongang.
Ketika itu di Kerajaan Borisallo, terdapat sembilan negeri yang masing-masing punya otonomi. Para pemimpin negeri kecil itu diberi nama Toddo (pemimpin). Konon, rakyat di 9 negeri itu, tak ada yang akur, karena tidak adanya seorang pemimpin yang bisa mempersatukan mereka.
Kesembilan toddo yang dimaksud adalah:
1. Toddo Pammolongang
2. Toddo Galesong
3. Toddo Pakkolompo
4. Toddo Mangempang
5. Toddo Allukeke
6. Toddo Bontojai
7. Toddo Pattalassang
8. Toddo Kassi, dan
9. Toddo Parangloe.
Para pemimpin 9 Toddo itu kemudian sepakat untuk mengangkat Tumanurunga sebagai Rajanya. Mereka mengangkatnya sebagai Ratu di Borisallo, karena dianggap bukanlah orang biasa (Tiai tau samara), karena ia diturunkan dari negeri khayangan untuk menjadi pemimpin di Negeri Borisallo.
Ketika diangkat menjadi ratu di Kerajaan Borisallo, warga setempat kemudian membangunkan istana di Pakkolompo yang dijadikan sebagai pusat pemerintahan.
Disekitar istana itu, terdapat hamparan persawahan yang disebut Tana Karaeng. Disampingnya terdapat sebuah kawasan hutan yang disebut Romang Karaeng yang dijadikan sebagai tempat perburuan rusa dan hewan lainnya.
Tempat turunnya Tumanurung di pohon ganjeng, hingga kini tetap dipelihara dan dianggap keramat oleh warga daerah Pakkolompo. Setip saat ada warga yang membawakan sirih pinang (pa'rappo) dengan harapan penduduk negeri Borisallo bisa mendapatkan keselamatan dan kemakmuran.
Masyarakat Borisallo saat itu takut kehilangan figur kepemimpinan Tumanurunga. Rakyat di 9 Toddo itu kemudian sepakat untuk mengawinkan putri ratu Tumanurunga ri Pammolongang dengan Karaeng Ponno. Dari hasil perkawinannya itu, membuahkan 2 orang anak yakni Yora Karaeng Bau dan Manrakkai Dg. Labba. Anak hasil perkawinan Tumanurunga ini, kemudian kawin mawin dengan kaum bangsawan dari berbagai negeri kerajaan di Sulawesi Selatan, termasuk kaum bangsawan di Kerajaan Borisallo dan manuju yang mengaku nenek moyangnya berasal dari Tumanurunga.


0 komentar:
Posting Komentar